Melirik Nandang Wuyung,Wayang Kekinian Asal Semarang yang Lahir dari Keterbatasan

KANDHANI.COM – Keberadaan seni dan budaya disebut kurang diminati generasi milenial. Penggiat seni dan budaya muda jadi punya banyak tantangan dan “pekerjaan rumah”. Mampu mengenalkan budaya dengan cara yang kekinian dan diminati. Hal ini pun jadi keprihatinan para pegiat seni dan budaya muda asal Semarang yang bernama Vikki Rahman (Vikki) dan Khotibul Umam (Umam). Menurut Vikki, tidak hanya minat seni dan budaya yang mulai luntur di generasi muda tetapi juga ekosistem dan dukungan terhadap pertumbuhan seni dan budaya.

Untuk membuktikan bahwa seni dan budaya mampu memberikan pengaruh positif dan mengingatkan akan kultur lokal, Vikki dan  Umam pun aktif berdiskusi dan mengajak teman-temannya untuk menggiatkan kegiatan seni dengan membuat Wayang Tenda.

Asal usul wayang tenda

Sebelum menciptakan Wayang Tenda, Vikki dan Umam yang aktif dalam dunia teater memang sudah memiliki tantangan untuk berkegiatan seni. Keduanya merasa kesusahan sejak lama untuk mencari ruang pertunjukkan di Kota Semarang yang belum mengakomodir kegiatan seni dengan ruang yang representatif atau tata ruang yang artistiknya bagus. Alhasil, dengan keterbatasan ruang keduanya selalu membutuhkan waktu 2 hari hingga lebih hanya untuk membangun setting latar agar pertunjukkan dapat maksimal.

Tanpa disengaja, saat Vikki tengah mendaki gunung, ia mendapatkan ide untuk menggunakan tendanya sebagai media seni. Kebetulan tenda yang dimiliki Vikki saat itu berlatar putih dan dapat memunculkan bayangan, Vikki pun langsung bereksperimen memaksimalkan media untuk seni yang dikuasainya. Akhirnya, Vikki mantap menggunakan tenda sebagai media tenda karena selain unik dan menarik, media ini tidak butuh biaya dan waktu yang lama.

“Awal pentas kami hanya menggunakan alat-alat sehari-hari sih, seperti gelas dan sendok.  Ini artinya bahwa mau berbagi cerita pun bisa semudah itu lho. Kamu nggak harus bisa bikin wayang bahkan memainkannya. Tapi kamu bisa memaksimalkan cerita dan pesan yang akan disampaikan, medianya bisa apa saja,” kata Vikki.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Nandang Wuyung (@wayangtenda) pada

Mengenalkan wayang sejak dini

Mengenalkan wayang kepada anak-anak sedini mungkin menjadi keinginan hadirnya Wayang Tenda. Selama ini memang pertunjukkan wayang tenda lebih sering diberikan untuk anak-anak sebagai media belajar budaya. Tetapi, Vikki menjelaskan bahwa segmentasi wayang tenda sebenarnya tidak terbatas untuk anak-anak saja. Namun, tidak ditampiknya bahwa ketika memberikan pertunjukkan untuk anak-anak terasa jauh lebih menyenangkan karena anak-anak masih memiliki daya imajinasi yang tinggi.

Ditambahkan oleh Vikki bahwa  wayang tenda dapat menjadi wayang imajinasi karenamenggunakan bayangan untuk dibuat dalam aktivitas seninya.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Nandang Wuyung (@wayangtenda) pada

 

Kisah ala wayang  kekinian

Cerita yang dibawakan dalam pertunjukkan wayang tenda juga menurut Vikki cukup unik. Berbeda dengan cerita dalam wayang kulit, wayang tenda merupakan kisah kehidupan sehari-hari dan kekinian. Seperti cerita monster, perjalanan ke luar angkasa dan sebagainya. Asyiknya, anak-anak yang jadi penontonnya pun diajak untuk belajar menjadi dalang. Jadi interaksi yang terjadi semakin hidup dan membuat penonton merasa sangat terhibur.

Selain menjadi hiburan,kehadiran wayang tenda kisah yang diberikan dalam pertunjukkan juga menyelipkan beberapa pesan moral. Lewat wayang tenda, Vikki dan Umam juga berupaya memerlihatkan kepada pegiat seni muda lainnya untuk tidak menyerah dan semakin kreatif dengan keterbatasan lingkungan seni yang ada di Kota Semarang. “Ini juga menjadi pesan untuk teman-teman yang menekuni seni bahwa ternyata tempat untuk menggelar pertunjukkan bisa dimana aja. Membuat suatu pertunjukkkan itu semudah membuat mie goreng, ya sudah digelar saja. Medianya dari hal-hal yang ada di sekitar,”tutup Vikki.

 

Makin Jadi Ngerti, Ya Kandhani Aja!


Nanda Oktavia