Peringati Hari Ibu, Ini Kisah Inspiratif Dibalik Kelahirannya

KANDHANI.COM – Sebelumnya saya ingin mengucapkan “Selamat Hari ibu”. Kasih sayang memang tidak bisa diukur, terutama dari seorang ibu. Kasih sayang sepanjang masa selalu melekat di diri seorang ibu yang merawat anaknya dan membesarkan dengan penuh cinta. Kasih sayang yang tiada tanding, ditimbang, atau dibandingkan dengan hal lain, sebab ibu memiliki kasih sayang yang luar biasa banyaknya. Ibu memiliki makna tersendiri bagi tiap orang. Ada yang bilang ibu seperti sahabat, malaikat tak bersayap, orang yang paling baik, bahkan ribuan puisi telah banyak dilahirkan untuk mendeskripsikan tentang ibu. Namun itu semua seolah ‘tak pernah pernah cukup.

Ibu selalu menjadi seseorang yang erat akan makna, satu kata “ibu” bisa mengandung ribuan makna. Dunia pun ikut serta mengapresiasi tentang jasa ibu dengan ditetapkan hari Ibu setiap 22 Desember. Banyak tempat yang ikut serta merayakan hari ibu, mulai dari sekolah, perusahaan,  dan saat ini media sosial menjadi tempat saling menyebar ungkapan pada hari ibu. Tapi tahukah kamu kenapa Hari Ibu dicetuskan? Yuk, tengok kembali cikal bakal lahirnya Hari Ibu.

Kongres Perempuan Pertama

Yogyakarta menjadi kota pilihan dideklarasikan pertama kalinya Kongres Perempuan Indonesia tanggal 22 Desember 1928. Tepatnya di Pendopo Dalem Jayadipuran yang dihadiri oleh sekitar 30 organisasi wanita dengan jumlah perempuan sekitar 600 orang dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Kongres ini menghadirkan perempuan dari berbagai tingkat pendidikan dan usia.

Awalnya kongres ini untuk menguatkan persatuan antar organisasi yang pada saat itu cenderung bergerak sendiri-sendiri. Isi dari hampir semua kongres membahas tentang perempuan, hal itu juga dilihat dari kongres yang kedua yaitu Nyai Hajar Dewantara, yang juga ikut serta dan menyampaikan tentang adab perempuan.

Pidato Tentang “Iboe” Oleh Djami

Pada kongres itu juga bergema pidato yang berjudul “Iboe” oleh Djami dari organisasi Darmo Laksmi, pidato berisi tentang masa kecilnya yang di pandang rendah karena ia perempuan. Kaum Perempuan selalu di anggap hanya bergulit dengan kasur, sumur, dapur. Bahkan sampai saat inipun pemikiran itu masih sering ditemukan di banyak kalangan.

Djami berpendapat “tak seorang akan termasyur kepandaian dan pengetahuannya dan ibunya atau perempuan bukan seorang perempuan yang tinggi juga pengetahuan dan budinya”, dilanjutnya “selama anak ada terkandung oleh ibunya, itu lah waktu yang seberat-beratnya, karena itulah pendidikan ibu yang mula-mula sekali pada anaknya”.

Para pahlawan perempuan seperti Kartini, Rohana Kooedoes, dan juga Dewi Sartika memiliki peranan penting dalam membela hak perempuan untuk diberikan pendidikan juga. Mereka juga para pejuang perempuan dalam pembangunan sekolah untuk indonesia. Bagi mereka, ibu yang cerdas akan melahirkan anak yang akan menjadi generasi yang cerdas pula.

Untuk mengingatkan jasa seorang ibu yang tak terhingga maka pada 22 Desember 1953, pada kongres ke 25, Presiden Soekarno menetapkan setiap 22 Desember sebagai Hari Ibu, melalui Dekrit Presiden RI No. 316 tahun 1953.

Nah, #jadingerti kan sekarang kenapa hari ibu jatuh pada tanggal 22 Desember? Dibalik penetapan Hari Ibu ternyata banyak sekali perempuan-perempuan yang berjasa untuk mendapatkan hak layak dan diakui oleh semua kaum perempuan maupun laki-laki.

Tentang Ibu Bagi Anak Milenial

22 Desember selalu menjadi hari yang meriah dengan ucapan dan foto ibu yang bertebaran dibanyak media sosial, hampir semua media ikut serta dalam apresiasi hari ibu ini. Banyak hal yang dilakukan untuk memperingati hari ibu, seperti memberi kado, mengirim doa, atau sekedar menelponnya saat berjauhan.

“Hari ibu sudah menjadi salah satu hari penting bagi dunia dan saya juga”, ujar salah satu siswi SMK 6 Semarang, Putri Safira Ramawati. Bagi gadis yang akrab dipanggil Putri ini Hari Ibu menjadi hari yang patut diperingati untuk mengenang kembali jasa ibu yang membesarkan dan mendidik dari kecil hingga saat ini.

“Terima kasih ibu susah merawat aku dari kecil hingga saat ini, dan maaf jika masih sering nakal” ucap Putri untuk ibunya. Ibu akan selalu menjadi orang pemaaf dan penerima terima kasih terbanyak dari anaknya. Ia tidak akan sungkan untuk selalu mengorbankan banyak hal untuk kebahagiaan anaknya. Kelelahan, kesulitan dan rasa sakit akan ibu tanggung untuk membuat anaknya tersenyum.

Hari Ibu Setiap Hari

Beberapa orang malah ada yang menganggap tidak ada Hari Ibu. Seperti bagi M. Afif Auliansyah siswa dari SMA 10 Semarang ini, “Sebenarnya bagi saya hari ibu tidak ada karena saya rasa setiap hari adalah Hari Ibu. Dengan kita memberikan kasih sayang, perhatian itu tandanya kita sudah memperingati Hari Ibu” ujarnya. Bagi lelaki yang hobi olahraga ini, hari ibu tidak perlu diperingati dengan kata-kata. Baginya yang sulit mengungkapkan rasa sayang kepada ibu lewat ucapan ia menyampaikan kasih sayangnya dengan sikap secara langsung. Afif menganggap, ibu selalu bisa menjadi malaikat tanpa sayap didunia.

Ibu selalu menjadi orang yang jasanya tidak akan bisa dibayar dengan apapun. Selama melihat anak nya bahagia itu sudah cukup membuatnya tersenyum juga. Hari Ibu bisa kamu jadikan renungan kembali tentang jasa-jasa ibu dalam bertahan melawan segala kesulitan yang ia alami hanya untuk anaknya. 22 Desember tepatnya hari ini kamu bisa menyampaikan kasih sayang kepada ibu melalui ucapan ataupun tindakan.

Selamat merayakan hari ibu!

Makin Jadi Ngerti, Ya Kandhani Aja!


 Sari Lestari 

Editor : Wildan Namora