Salim Movement, Kenali dan Cari Tahu Lebih Dalam Tradisi Salim

KANDHANI.COM – Tradisi salim sudah mengakar dan menjadi bagian dari budaya?Tapi tahukah kamu dari mana asal usulnya?Lalu sejak kapan salim menjadi bagian dari cara perkenalan?Mungkin terdengar sepele, tapi kamu wajib tahu dan mengenali tradisi #Salimitubaik.

Salim merupakan penghargaan atau penghormatan terhadap lawan bicara yang biasanya lebih tua. Ada beberapa cara yang dilakukan juga saat salim. Mulai dari menempelkan tangan yang dijabat ke pipi, dahi ataupun mencium tangan lawan bicara.

Budaya salim perlu dilestarikan

Tim riset Kandhani.com pun berusaha menelusuri bagaimana tanggapan generasi milenial terhadap tradisi ini.  Sebanyak 194 responden yang berstatus mahasiswa mengisi survei Kandhani.com tentang tradisi salim. Generasi milenial dan generasi Z yang sering dicap kurang bersahabat dengan budaya ternyata memiliki jawaban yang berbeda.

Hasil riset menunjukkan bahwa 97,4% tidak keberatan dengan tradisi salim, lalu sebesar  61,9% responden juga lebih memilih salim.

Setelah ditelusuri hampir seluruh responden mengenal budaya salim dari keluarga, yaitu sebesar 98,4%. Bagi responden saat melakukan tradisi salim  74,7 merasa biasa saja dan tidak keberatan. Sementara bahkan 23,7% justru sangat senang melakukan salim. Kabar baiknya, sebesar 89,2% responden merasa budaya salim perlu dilestarikan.

Salim movement

Budaya salim pada era seperti saat memang sudah jarang ditemui. Namun masih terdapat orang-orang yang masih mempertahankan budaya tersebut salah satunya adalah Titah Banu Arum Mumpuni. Mahasiswa semester 5 dari Universitas Dian Nuswantoro ini pernah menyandang predikat sebagai Duta Bahasa Jawa Tengah 2016.

Menurut Titah, ia berasal dari keluarga yang sangat kental dengan adat dan budaya jawa. Dara kelahiran Magelang ini juga menyatakan sangat mencintai budaya salim. Pasalnya, ia sudah terbiasa melakukan tradisi #Salimitubaik sedari kecil. “Saya dibesarkan dengan lingkungan keluarga yang mengajarkan budaya salim dan tata krama yang baik terhadap orang yang lebih tua,”jawabnya.

Titah juga menganggap bahwa budaya salim merupakan bagian dari pendidikan karakter, bukan hanya sekedar budaya. Baginya bahkan salim itu berisi kewajiban. Salim jadi simbol dan wujud dari rasa hormat, menghargai, sopan santun, doa restu dari orang tua. Dengan kebiasaan yang sudah terpupuk sejak dini, Titah menganggap bahwa dengan salim akan memberikan rasa nyaman tersendiri.

Nggak lebih dari 3 detik

Namun, nggak semua generasi milenial dibesarkan seperti Titah yang sangat menjunjung tinggi adat dan budayanya. Dari hasil riset, beberapa responden memang merasa lebih nyaman berjabat tangan daripada salim yaitu sebesar 37,1%.

Kabar baiknya melakukan salim juga nggak diperlukan waktu lama. Kamu bahkan tidak menghabiskan waktu lebih dari tiga detik. Kebiasaan baik ini nggak ada salahnya untuk dicoba dan dilakukan.  Jadi mau sesibuk apapun sempatkanlah untuk bersaliman, terlebih lagi dengan orang tua. Salim itu tidak akan lama, cukup menjabat tangan kemudian ditempelkan di dahi, pipi ataupun dicium tangannya.

 

Makin Jadi Ngerti, Ya Kandhani Aja!


 Amelia Muslichah