Yuk, Mengenal Tarian Gaya Semarang Lewat Pergelaran Tari Tradisional

KANDHANI.COMNguri-uri budaya Jawa atau bahasa kerennya melestarikan budaya sebenarnya menjadi tanggung jawab bersama para generasi muda. Nah, sayangnya banyak yang belum menyadari bahkan mungkin kurang peduli. Nggak harus menjadi budayawan tetapi bisa kamu lakukan dengan hal-hal yang sederhana.
Coba, diingat-ingat, kapan terakhir menonton pergelaran tari tradisional?Biar jadi ngerti dan kamu semakin mencintai budaya plus ikut berkontribusi melestarikan. Sesekali kamu wajib hadir jika ada pergelaran tari tradisional. Beberapa waktu lalu, Taman  Indonesia Kaya Semarang bekerjasama dengan sanggar Greget Semarang menggelar pergelaran tari agar generasi muda kembali mengenal dan belajar budaya tari tradisi yang mulai redup peminat.
Sanggar Greget yang diasuh oleh Yoyok Bambang Priyambodo ini sukses menampilkan berbagai tari Semarangan yang didedikasikan untuk kota Semarang. Menurut penggiat seni tari ini, pertunjukkan tari yang ia persembahkan merupakan usaha untuk melestarikan tari Semarangan, “Saya berharap ini salah satu upaya generasi penerus untuk mau mengenal tari Semarangan dan budaya agar tetap lestari hingga nanti” doanya.

Digagas sejak lama

 

View this post on Instagram

 

A post shared by SANGGAR TARI GREGET SEMARANG (@gregetsmg) on

Menurut cerita Yoyok, tarian yang ditampilkan adalah kreasi tari dari tahun 1998 hingga 2018. Saat tampil di panggung tarian yang mengusung tema “gaya semarangan” ini memang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di Semarang.
Pergelaran yang direspons positif menampilkan 9 tarian hasil karya dari Yoyok Bambang Priyambodo. Mulai dari  Tari Brintik, Tari Batik, Tari Denok Deblong, Tari Turonggo Dimang, Tari Warak Dugder, Tari Sekar Cemani, Tari Sekar Cemani, Tari Prajuritan serta Tari Pesona Semarang Hebat.
Ada yang menarik dari gaya tari Semarangan dengan ciri khasnya yang nggak dimiliki oleh daerah lain. Yaitu, lenggak lenggok gerak, limbai tangan serta sekalannya, hingga busana yang dikenakan. Busana yang dikenakan para penari mengisyaratkan simbol Semarang, seperti motif Batik Bunga, Lawang Sewu dan Tugu Muda.
Kerennya lagi pergelaran ini ditampilkan oleh para generasi milenial dan generasi Z yang pandai dalam menari. Bukan hanya perempuan yang ikut serta tapi juga laki-laki tertarik untuk melestarikan budaya jawa ini.

Libatkan generasi muda

Untuk membuat banyak generasi muda mau mengenal tari tradisi, Yoyok pun memilih para penari muda untuk terlibat dalam pergelaran tari. Salah satunya, Athalia Atasya, yang mencintai dunia tari sejak kecil. Dara kelahiran Semarang ini bahkan terus mendalami dan mengeksplor keahlian menarinya sejak SMP.
Atha panggilan akrabnya, mengaku memang memilih menjadi penari tradisional karena baginya penuh dengan tantangan. Selain, jarang ada yang minat tentang tarian tradisional bagi Atha melestarikan budaya menjadi salah satu tugasnya. Dengan lemah gemulai Atha sukses menarik perhatian pengunjung dengan Tari Brintik yang dibawakannya. Saat ditanya, Atha bahkan bisa menjelaskan bahwa tarian yang dibawakannya menceritakan kondisi rakyat kota Semarang pada masa pemerintahan Adipati Pandanaran.
Strategi Yoyok sebagai pembina Sanggar Greget Semarang untuk mengenalkan budaya tari tradisi ke generasi muda cukup sukses. Pasalnya, antusias masyarakat sangat tinggi untuk menonton pagelaran ini, bukan hanya orangtua, anak muda dan anak kecil pun diajak berbondong-bondong untuk menyaksikannya. terlihat dari jumlah penonton yang membludak sampai penonton harus berdiri di pinggiran taman.
Apresiasi ini mampu memicu seniman berkarya untuk dinikmati masyarakat. “Termasuk ruang yang diberikan kepada seniman di Taman Indonesia Kaya. Apresiasi yang memang dibutuhkan” ujar yoyok.
Pergelaran tari yang sukses digelar ini juga mendapatkan dukungan dari beberapa sanggar tari lainnya seperti Sanggar Tari Tanah putih, Sanggar Kusumawardani dan Sanggar Mahendra.
Nah, sudah jadi ngerti, kan, jika ikut melestarikan budaya juga bisa dengan mulai mendukung pergelaran tari tradisi.

Makin Jadi Ngerti, Ya Kandhani Aja!


   Sari Lestari
Credit Photo Sanggar Greget Semarang/gregetsmg Instagram